Kamis, 02 Juli 2009

Pos Rakyat No.04 Th.1/16 - 30 April 2009

Journalis Junior: SMAN 1 Kandanghaur-Indramayu

Hallo temen-temen Arena SD, MI, SMP, M.Ts, SMA, MAN dan SMK, untuk tampilan perdana rubrik Arena ini, kami dari Tim Pengasuh menjatuhkan undangan ke SMAN 1 Krangkeng-Indramayu sebagai Tamu istimewa tentunya untuk menyuguhkan kegiatan eskul, dengan laporan perjalanan study wisata. Mereka adalah: Andes Pradesa, Muhammad Rizki Faisal, Laura Yohana S, Jesika Fedi Y, Andi Suwanto. Dan untuk terbitan selanjutnya siapa yang bakal jadi Redaksi Tamu kita ya, dan dari sekolah mana? Makanya sekarang kamu harus terus latihan menulis dengan memperbanyak membaca. Oke!

Rabu, 01 Juli 2009

Study Wisata Dan Milih Mau Kuliah Di Mana

Study Wisata Dan Milih Mau Kuliah Di Mana

Malam itu Minggu, 22 Maret 2009, kami dengan 252 siswa lainnya dari Klas XI SMAN 1 Krangkeng sudah membayangkan bagaimana lika-liku perjalanan study wisata yang sebentar lagi akan mengantarkan kami ke Purwokerto dan Yogyakarta. Dari dua kota bersejarah ini kami juga akan mengunjungi Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tepat pukul 21.30 WIB 5 bis yang kami tumpangipun bergerak meninggalkan halaman SMAN 1 Krangkeng, dan baru masuk perbatasan provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah pukul 00.10.
Senin Pagi pukul 06.45 punggung bis basah, kami sampai di kota pertama, Purwokerto. Selimut kabut bergerak menarik diri dari tubuh gunung slamet, supir bis sengaja menghentikan kendaraannya di tempat peristirahatan seolah memberi kesempatan pada kami untuk bersiap-siap mengemasi seluruh bawaan menjelang sampai ke tempat tujuan.
Dua jam kemudian kami sampai di Objek Wisata Baturaden yang posisinya persis di kaki Gunung Slamet, Jawa tengah. Lokasi wisata yang terkenal dengan jembatan gantung serta sempat mengingatkan kami pada peristiwa 5 tahun lalu. Di mana beberapa pelajar Indramayu sempat jadi korban saat terjadinya insiden di Jembatan Gantung ini. 
Siang harinya kami bergerak ke Unsoed, di depan kampus itu berdiri patung Jendral Soedirman berkuda yang seolah menyambut kedatangan kami, serta beberapa Dosen didampingi sejumlah mahasiswa alumni SMA N 1 Krangkeng. 
Dari Unsoed kami langsung ke wisata air Owabong. 1,5 jam lebih kami menikmati sejuknya air dan udara di situ, membiarkan imajinasi bergerak leluasa merespon segala pemandangan dengan mata terbuka. Tapi namanya juga perjalanan jauh pasti ada saja yang sakit, satu teman kami dari kelas IPS harus di bawa ke Rumah Sakit Kebumen. 
Keesokan harinya, Selasa 24 Maret 2009 kami masuk Hotel Bhineka Yogyakarta, dan pukul 08.00 paginya kami menginjakkan kaki di Universitas Gadjah Mada, perguruan tinggi terbaik pada urutan 316 Tingkat Dunia. 
Dari UGM kami bergerak ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Salah satu Perguruan Tinggi Negeri dengan gedung olah raga (GOR) bertaraf Internasional. Di situ kami disambut utusan Dosen serta layar in focus yang di pasang di halaman kampus sebagai ucapan selamat datang, di dalamnya tampak beberapa alumnus SMA N 1 Krangkeng. Dari kunjungan kami di ketiga Perguruan Tinggi selain adanya kesempatan berdialog, masing-masing utusan dosen punya cara tersendiri saat memberikan arahan, motivasi, dorongan moril dan pemaparan profilnya. Yang dalam hal ini tidak hanya membuat kami terkesan, tapi juga tumbuhnya semangat belajar untuk kemudian berharap bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi tersebut.

****
Setelah semua kegiatan kunjungan study dan pengumpulan informasi tentang ketiga perguruan tinggi yang menjadi program kegiatan sekolah kami di tahun ini selesai. Sekarang saatnya wisata mengendurkan sayaraf dengan mengunjungi Candi Prambanan dan Malioboro. Karena kedua objek wisata ini merupakan ikon budaya yang kuat di tanah air. Selain sebagai symbol puncak-puncak kebudayaan Indonesia yang dahsyat dengan karya adiluhung dari kekuatan akal budi manusianya. Prambanan juga menyimpan nilai sejarah yang tak habis dibaca.
Sementara Malioboro yang membentang sepanjang 2 km antara Gedung Seni Sono dan Stasiun Tugu itu memiliki tebaran imajinasi yang lebih panjang dari jaraknya yang ada. Di situ orang-orang tumpah datang dari berbagai sudut kota Indonesia dan penjuru dunia berjalan berjubel memadati, melihat-lihat, menikmati dan membeli segala pernak pernik souvenir karya kreatif tangan-tangan terampil manusianya.
Waktu terus merayap seperti manusia dan kendaraan yang lalu lalang di kota kecil berjuluk kota terpadat di dunia ini, karena di dalamnya terdapat hampir sebagaian besar suku di Indonesia dan suku bangsa dunia, melancong mengelana. 
Selamat malam Yogyakarta
kedatanganku bukan untuk siapa-siapa 
tapi untuk sebuah suasana

1 jam kami hunting dan melakukan transaksi dengan para penjual souvenir, penjual pakaian, makanan khas Ba’pia dan Wingko Jogja menjadi oleh-oleh dari perjalanan study wisata ini. Lalu tepat pukul 21.00 kami pun beringsut meninggalkan Malioboro, menuju Hotel berkemas cek out dan menuju Bis pulang ke Indramayu. (Sal, Ura, Jesi, Andi, Andes) (as)
SDN 2 Srengseng Kian Parah
Padahal Sekolah Pertama di Kecamatan Krangkeng Yang Dibangun Tahun 1918

Memang, untuk prestasi akademik SDN 2 Srengseng bukan tempatnya, selain dari sekolah ini juga konon belum melahirkan orang-orang sebesar Indriya Samego, tapi paling tidak H. Deddy, S.Pd KCD Pendidikan Krangkeng pernah belajar membaca atau berhitung di sekolah ini. “Tapi apakah karena mutu pendidikannya kurang lantas kondisi bangunannya juga harus dibiarkan terus berkurang.” Begitu, tanya Sopan (32), salah seorang tokoh pemuda setempat yang juga pernah bersekolah di SD ini.
Hampir sebagian besar kondisi bangunan tampak rusak, baik tembok (dinding pembatas), lantai, genting sampai tulang penyangga plaponnya pun sudah ada yang jebol dan dikhawatirkan rubuh. Meski kondisi bangunanya kian hari kian parah, tapi yang namanya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SDN 2 Srengseng jauh lebih besar dari SD SD lain yang ada di desa setempat. Setiap tahun ajaran baru tiba, Kepala Sekolah dan Gurunya selalu kerepotan memberi alasan kepada para orang tua, agar mendaftarkan anaknya ke SD yang satunya lagi, karena jumlah penerimaan muruid di SDN 2 Srengseng sudah berlebih. Namun alasan tersebut selalu ditampik, dan akhirnya mereka terpaksa harus diterima.
“Jadi tidak heran Pak kalau di sekolah kami setiap kelasnya berisi 50 siswa, dan ini memang melebihi dari jumlah rombongan belajar yang sedianya 40 orang itu. Tapi apa mau dikata, selain peminat masyarakat besar untuk menyekolahkan anak-anaknya, jumlah ruang kelas yang terpakai Cuma 7, sedangkan yang lainnya sudah tidak berani ditempati demi keamanan dan keselamatan siswa,” ujar Pak Roki dan Komar kepada PR.
Sementara menurut Komar, Guru Bahasa yang mewakili kepala Sekolah baru, Aliyah, S.Pd, mengatakan bahwa pengajuan perbaikan sekolah ini sudah di respon pihak Dinas Pendidikan, dan tinggal menunggu kapan kepastian realisasinya. (as) 

Puisi

Eva Istiana 

Resah

Ditemaram bintang 
jalanan sibuk
‘tuk mendengar resahku

Adakah angin yang sudi
mengantar kisahku

Kelas XII IPA
SMAN Unggulan Jatibarang


Ade Tika Rahmawati

Pemilu

Satu yang ditunggu
tuk mencapai Negara maju
tuk berikan kepercayaan baru
tuk pilih pemimpin yang mampu

Pemilu
jutaan makna 
untuk wajah Indonesiaku

Kls XII IPA 1
SMAN 1 Sindang-Indramayu


Tinjauan Puisi

Rahasia Dua Gelisah Yang Berbeda

oleh: acep syahril

Sepertinya sulit bagi setiap orang untuk memulai pekerjaan yang belum dia kenali betul jenis pekerjaannya, seperti seorang yang baru mengenal dunia montir atau tukang servis radio dan tv. Jangankan untuk memperbaiki kerusakan dua benda tersebut, melihat seluruh perangkat eletronik yang menempel saling taut bertaut dengan kabel serta komponennya yang serba kecil itu saja, akan membuat seseorang tadi pusing. Tapi ketika montir yang ahlinya turun memperbaiki salah satu kerusakan dari kedua benda itu, barulah seseorang tadi manggut-manggut.
Keesokan harinya seseorang tadi kembali memperhatikan si montir memperbaiki kerusakan tv konsumen yang baru. Sambil memegang buku panduan, mencatat setiap komponen yang rusak atau yang perlu diganti, kadang dia ikut terlibat mencari tau penyebab rusaknya tv tersebut. Dan hal ini dia lakukan terus menerus hingga kemudian dia sendiri berani untuk mengambil alih kerja si montir tadi memperbaiki radio konsumen.
Hal ini tidak jauh beda dengan dunia tulis menulis. Seseorang baru akan terasa terkagum-kagum ketika membaca hasil tulisan temannya yang sudah dimuat di surat kabar, tapi dia sendiri ketika berupaya tampil seperti temannya selalu saja menemui kesulitan. 
Dan dia tidak tau kalau temannya tadi tidaklah tampil ujug ujug sebagai penulis, tapi telah melalui proses panjang, dengan banyak belajar, banyak bertanya dan banyak membaca, baru kemudian masuk dalam latihan menulis. Jadi profesi menulis bukanlah berdasarkan bakat, tapi lebih pada niat dan keinginan besar, apalagi bagi kamu yang sudah mulai menyukai dunia penulisan, entah itu cerpen atau puisi. 
Kali ini Arena menampilkan dua penulis puisi, yakni Eva Istiana, kelas XII IPA SMAN Unggulan Jatibarang-Indramayu dan Ade Tika Rahmawati, kelas XII IPA 1 SMAN 1 Sindang-Indramayu. Eva Istiana dengan puisi berjudul “Resah” sedangkan Ade Tika Rahmawati dengan “Pemilu”.
Keduanya memiliki penampilan dan steel yang berbeda, kalau Eva tampil dengan nuansa pribadi atau dunia dalam dirinya yang penuh gelisah /Adakah angin/yang sudi mengantar kisahku/. Yang dalam hal ini sulit diterka, apa bentuk kegelisahan yang tengah dirasakan Eva? Padahal penggunaan bahasanya sangat konvensional, tapi karena pada struktur puisi ini terdapat unsur imajinasi serta bahasa simbolik yang kuat untuk menyamarkan persoalan penulisnya. Sehingga pembaca dipaksa untuk menjabarkan rahasia puisi tersebut.
Berbeda dengan Ade Tika Rahmawati dalam puisi Pemilu nya, Ade tampil bersama gelisahnya yang lain dengan bahasa konvensional yang sedikit verbal, dipoles citraan yang menarik hingga memiliki makna cukup dalam /Pemilu/jutaan makna/untuk wajah Indonesiaku/.
Sebagai generasi muda, generasi penerus pembangunan dan pemilih pemula di negeri ini, Ade Tika juga punya rasa tanggung jawab moral dan hak untuk ikut menentukan kemana arah bangsa ini berjalan, /tuk berikan kepercayaan baru/ dan /tuk pilih pemimpin yang mampu/. 

Deddy Apriadie Raswin

Leksikon:

Deddy Apriadie Raswin (Penyair)

Lahir di Cirebon-Jawa Barat, 6 Oktober 1962, dia adalah salah seorang penyair Indonesia yang kini berdomisili di Indramayu. Selain menulis puisi dia juga aktif mengelola Forum Masyarakat Sastra Indramayu yang mempasilitasi kegiatan disukusi bagi penyair setempat. Pemikiran-pemikiran bernasnya yang tidak pada setiap forum terlontarkan sangat diperhitungkan dalam pembicaraan peta kesastraan di Indramayu. Hal ini juga sangat terwakili pada karya-karya puisinya yang cukup memberi warna pada dunia kepenyairan Indramayu. Sebagian besar puisinya selain termuat di beberapa surat kabar, juga dimuat dalam sejumlah buku kumpulan puisi, seperti: Sajak-Sajak (1983), Tanah Garam (1992), Kiser Pesisiran (1994), Dari Negeri Minyak (2001) dan Tanah Pilih (2008, Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I). (as)